Jumat, 27 November 2015

TES KECERDASAN CFIT SKALA 3



RANGKUMAN HASIL PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS
TES KECERDASAN

1.   Tes CFIT SKALA 3
a.     Deskripsi Tes CFIT Skala 3
 i.     Landasan Teori
A.    Sejarah CFIT
Tes CFIT pertama kali di buat oleh Cattel pada tahun 1920an. Tes tersebut dianggap menjadi ukuran “g” (measure of “g”). Tes ini mengalami beberaparevisi dan penelitian. Revisi dan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat validasites ini. Pada tahun 1949 skala Cultur Fair mengalami revisi dan sampai sekarang hasilnya tetap dipakai. Tujuan utama rancangan dan susunan tes ini adalah : 
1.      Menciptakan instrumen yang secara psikomteria sehat, berdasarkan teori yangkomperehensif, dengan validitas dan rellabilitas semaksimal mungkin.
2.      Memperkecil pengaruh budaya-budaya dan kondisi masyarakat yang tidak relevan.Tetapi tetap mempergunakan atau mempertahankan kegunaan prediktif untuk berbagai tingkah laku konkrit.
3.      Pelaksanaan penyajian dan penyekoran yang sangat mudah dan penggunaan waktutes yang relatif ekonomis.
B.     Teori CFIT
Menurut Cattel (1973), tes kecerdasan CFIT dirancang sedemikian rupa, sehingga pengaruh kelancaran verbal, kondisi budaya, dan tingkat pendidikan terhadap tes di perkecil. Jadi kesimpulannya tes kecerdasan CFIT berusaha menghindari unsur unsur bahasa, kecepatan dan isi yang terkait dengan budaya, Agar kecerdasan umum padaseseorang bisa diketahui tanpa pengaruh unsur-unsur tersebut. Ada 3 skala pada tes CFITini yang di susun dalam Form A dan Form B secara paralel. 3 skala tersebut adalah :
1.      Skala 1 = untuk anak usia 4 - 8 tahun, dan untuk individu yang lebih tua yangmengalami cacat mental
2.      Skala 2 = untuk anak usia 8-14 tahun dan untuk orang dewasa yang memilikikecerdasan dibawah normal atau rata-rata.
3.      Skala 3 = untuk usia sekolah lanjutan atas dan orang dewasa dengan kecerdasan tinggi.
Tes CFIT dimaksud untuk mengukur “Kemampuan Umum” atau “General Ability” atau “G”  faktor. Menurut teori kemampuan yang dikemukakan oleh Cattel, Tes CFIT adalah mengukur “Fluid Ability” seseorang. “Fluid Ability” adalah kemampuan kognitif seseorang yang bersifat herediter. Kemampuan kognitif yang “fluid” inidi dalam perkembangan individu selanjutnya mempengaruhi kemampuan kognitif lainnya yang disebut sebagai “Cristalized Ability”. “Cristalized Ability” seseorang merupakan kemampuan kognitif yang diperoleh di dalam interaksi individu dengan lingkungan sekitarnya. Sampai seberapa jauh kemampuan kognitif seseorang adalah tergantung dari berapa jauh keadaan “Fluid Ability”nya dan bagaimana perkembangan dari “Cristalized Ability”.



ii.     Jenis tes
CFIT termasuk dalam jenis tes profiensi  karena tidak tergantung pada satu intervensi secara eksklusif, materinya relatif lebih luas, item-item di susun berdasarkan spsifikasi yang ditentukan. CFIT juga masuk dalam jenis tes individu dan kelompok serta jenis tes speed karena mengukur kecepatan/ketangkasan  dalam mengatasi masalah.

iii.     Jumlah soal
Tes CFIT memiliki soal sebanyak 50 soal yang terdiri dari 4 subtest soal. Dimana subtest pertama memiliki 3 soal sebagai contoh bagaimana pengerjaannya dan 13 soal untuk dikerjakan sendiri oleh peserta. Lalu pada subtest yang kedua terdapat 3 soal sebagai contoh dan 14 soal untuk dikerjakan sendiri oleh peserta. Untuk subtest ketiga terdapat 3 soal untuk contoh dan13 soal untuk dikerjakan sendiri oleh peserta tes. Lalu padasubtest terakhir yaitu subtest ke empat, terdapat 3 soal untuk contoh dan 10 soal tesuntuk dikerjakan sendiri atau tanpa didampingi pengetes.
iv.     Waktu
Waktu pengerjaan Tes CFIT ini adalah:
·         Pada subtest pertama waktu yang diberikan untuk mengerjakan adalah 3 menit, sedangkanuntuk instruksi waktu yang diberikan adalah 5 menit.
·         Pada substest kedua waktu yang diberikan untuk mengerjakan 4 menit, sedangkan untukinstruksi waktu adalah 5 menit.
·         Pada subtest ketiga diberikan waktu3 menit untuk mengerjakan soal, dan 5 menit untuk memberikan instruksi.
·         Pada subtest keempat waktu yang diberikan untuk pengerjaan soal adalah 2,5 menit dan untuk instruksi adalah 5 menit.

v.     Prosedur pengerjaan
ü  Waktu pengerjaan semua subtest 124 menit
ü  Instruksi : mengisi identitas pada lembar kerja, dan mendengarkan petunjuk dari tester, dan tanda waktu berhenti dari tester
ü  Skoring : menjumlahkan semua jawaban yang benar dari ke empat subtest tersebut, lalu dimasukan ke dalam skor mentah atau RS. Pada tabel klasifikasi cocokan RS dengan umur kita lalu lihatlah hasil I.Q. yang tertera pada tabel

vi.     Langkah-langkah dalam scoring dan interpretasi
Ø  Cara pengskoringan tes CFIT
·         Pergunakan Q atau kunci yang sudah tersedia
·         Setiap nomor soal dari masing-masing sub tes yang dikerjakan btul oleh subyek, dinilai = 1
·         Kemudian jumlah jawaban yang dikerjakan betul dari masing-masing sub tes tersebut dijumlahkan seluruhnya
·         Seluruh jumlah jawaban yang betul ini diubah ke dalam skala I.Q.
Ø  Interpretasi skala deviasi I.Q. menurut Stanford-Binet Tes tersebut adalah sebagai berikut.
o   170 ke atas = Genius
o   140-169 = Very Superior
o   120-139 = Superior
o   110-119 = High Avarage
o   90-109 = Avarage
o   80-89 = Low Avarage
o   70-79 = Borderline
o   68-83 = Borderline Mental Retardation
o   52-67 = Mentally Defective
o   36-51 = Mild Mental Retardation
o   20-35 = Modarate Mental Retardation
o   Di bawah 19 = Profound Mental Retardation

b.    Kesan/tanggapan setelah mengerjakan tes
Kesan saya setelah mengerjakan tes ini adalah saya lumayan puas dengan hasil ini karena agak sesuai dengan kecerdasan saya.

c.    Kekuatan dan kelemahan tes
Ø  Kekuatan dari tes CFIT
·         Merupakan alat ukur yang dapat di percaya untuk mengukur kemampuan umum seseorang dalam relatif waktu yang singkat.
·         Pelaksanaan penyajian dan penyekoran yang sangat mudah dan penggunaan waktu tes yang relatif ekonomis.
·         Tes ini melatih kecepatan dan ketepatan dalam pengerjaanya.
·         Tes ini memiliki beragam soal
·         Dapat dipergunakan secara klasikal atau dalam kelompok 20-30 orang
Ø  Kelemahan dari tes CFIT
·         Kurang sebandingnya waktu pengerjaan setiap subtest dengan soal yang cukup sulit

d.   Hasil tes
Nama                      : Maria Titian Moi Lay
Tanggal Lahir         : 05 Agustus 1996
Jenis Kelamin         : Perempuan
Pendidikan             : Mahasiswa
Tanggal Tes            : 10 September 2015
Jumlah soal benar   : 22
Jumlah soal salah    : 28
I.Q. Euqivalent       : 100
Klasifikasi              : Average


RANGKUMAN
  1. Tanggapan saya terhadap tes kecerdasan ini adalah saya cukup puas dengan hasil tes kecerdasan ini. Saya menerima hasil tes ini, karena hasil tes ini memang sudah cukup betul menggambarkan kecerdasan saya. Di bidang eksata saya lumayan bisa dan di bidang non eksata pun saya juga lumayan bisa. Artinya kecerdasan saya berada di daerah seimbang. Walaupun kecerdasan di batas rata-rata saya tetap optimis dengan hasil yang rata-rata itu saya tetap bisa mencapai atau mendapatkan sesuatu dengan maksimal.
2.      Sandungan yang mungkin saya hadapi terkait dengan kecerdasan saya adalah menjadi agak rendah diri bila mengetahui teman yang lain memiliki kecerdasan yang lebih dari saya. Tidak akan terlalu aktif lagi dalam kegiatan di dalam ruang kuliah maupun luar kuliah, karena merasa ada yang lebih bisa dari saya. Jadi saya tdak perlu terlalu berusaha.

TES KECERDASAN SPM



                                                      
RANGKUMAN HASIL PEMERIKSAAN PSIKOLOGIS
TES KECERDASAN
                                                                                
1.   TES SPM
a.    Deskripsi Tes SPM
 i.     Landasan Teori
SPM (Standard Progressive Matrixes)
a.      Pengertian
Standard Progressive Matrixes, merupakan salah satu tes inteligensi yang dikenal luas di Indoensia. SPM merupakan tes non verbal yang menyajikan soal-soal dengan menggunakan gambar-gambar yang berupa figur dan desain abstrak, hingga diharapkan tidak tercemari oleh faktor budaya. Tes ini tidak menghasilkan IQ, melainkan skor yang dapat dibandingkan dengan norma untuk menunjukkan tingkat kemampuan mental seorang anak.
Tes Standard Progressive Matrices (SPM). Tes ini pertama kali diciptakan oleh John. C Raven tahun 1938 dan pertama kali digunakan untuk Angkatan Bersenjata Inggris dalam Perang Dunia II. Jenis tes ini dikelompokkan sebagai tes non verbal artinya materi soalnya tidak diberikan dalam bentuk tulisan ataupun bacaan melainkan dalam bentuk gambar-gambar. Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan dalam hal pengertian dan melihat hubungan bagian bagian gambar yang disajikan serta mengembangkan pola berpikir yang sistematis. Tes ini dianggap sebagai culture fair test (adil untuk semua budaya) karena mampu meminimalkan pengaruh budaya tertentu.
Materi tes berupa gambar dengan sebagian yang terpotong, tujuannya subjek mencari potongan gambar yang cocok dari alternatif gambar yang disediakan. Penyajian tes dapat dilakukan secara klasikal atau individual yang hasilnya berupa persentil dan grade dari inteligensi. Tes ini terdiri dari 60 soal yang dikelompokkan dalam lima seri yaitu: A, B, C, D, dan E, setiap seri terdiri dari 12 item. Total waktu yang dibutuhkan tidak terbatas, tetapi biasanya disediakan waktu 30 menit. Tes ini biasa digunakan pada anak SD maupun SMP.
b.      Tujuan
Tes ini bertujuan untuk mengungkap kemampuan memahami figur yang tidak berarti dengan mengobservasi dan berfikir jernih pada saat mengerjakan tes, kemudian melihat hubungan antara figur-figur yang ada yang pada gilirannya mampu mengembangkan penalaran. Disamping itu untukmengukur kemampuan seseorang untuk membentuk hubungan persepsi.
Tes SPM disusun berdasarkan teori faktor ”g” yang dikemukakan oleh Spearman yang bertujuan untuk mengungkap kemampuan intelektual (inteligensi umum) individu. Aspek-aspek yang diungkap dalam tes ini adalah:
1.      Kemampuan penalaran ruang yaitu kemampuan seseorang dalam memahami konsep ruang (spasial).
2.      Kemampuan menganalisis, mengintegrasikan, mencari dan memahami sistem hubungan diantara bagian-bagian.
3.      Kemampuan dalam hal ketepatan yaitu kemampuan seseorang dalam menghitung.


ii.      Jenis tes
SPM dikelompokkan sebagai tes non verbal artinya materi soalnya tidak diberikan dalam bentuk tulisan ataupun bacaan melainkan dalam bentuk gambar-gambar. Selain itu juga SPM masuk dalam jenis tes speed karena bertujuan untuk mengukur kecepatan/ketangkasan dalam mengatasi masalah, skor biasanya menunjukan frekuensi masalah yang diatasi. SPM juga masuk dalam jenis tes individual maupun kelompok karena tes ini bisa dilakukan sendiri atau kelompok.

iii.      Jumlah soal
Tes Standard Progressive Matrices (SPM) terdiri atas 60 butir soal atau pola-pola, yang terbagi dalam lima (5) kelompok soal (A, B, C, D, E), dimana masing-masing kelompok soal berisi 12 soal. (A1, A2, A3, A4, A5, A6, A7, A8, A9, A10, A11, A12, B1, B2, B3, B4, B5, B6, B7, B8, B9, B10, B11, B12, C1, C2, C3, C4, C5, C6, C7, C8, C9, C10, C11, C12, D1, D2, D3, D4, D5, D6, D7, D8, D9, D10, D11, D12, E1, E2, E3, E4, E5, E6, E7, E8, E9, E10, E11, E12)

iv.      Waktu
Waktu untuk pengerjaan Tes SPM ini adalah 30 menit.

v.      Prosedur pengerjaan
Prosedur pengerjaan tes SPM adalah
ü  Mengisi identitas pada lembar kerja tes
ü  Sebelum mengerjakan tes, testee di minta untuk mendengarkan tester membacakan petunjuk bagaimana mengerjakan tes SPM ini.
ü  Setelah selesai petunjuk di bacakan, kemudian testee di minta untuk mulai mengerjakan tes dalam waktu 30 menit. Semua testee memiliki waktu pengerjaan yang sama rata
ü  Dalam mengerjakan tes, testee di minta untuk melengkapi kotak gambar yang terpotong dengan pilihan gambar yang sudah disediakan.
ü  Ketika tanda waktu selesai, testee di minta untuk berhenti mengerjakan tes entah sudah selesai atau belum
ü  Hasil tes tersebut akan dihitung oleh tester atau dihitung bersama-sama dengan testee.

vi.      Langkah-langkah dalam scoring dan interpretasi
Ø  Cara Skoring Standard Progressive matrices :
1.       Menskor jawaban testee sehingga mendapatkan skor mentah
       Cara penilaian pada tes ini adalah memberi nilai 1 pada jawaban yang benar, dan nilai 0 pada jawaban yang salah. Sehingga skor mentah atau Raw Scored maksimal yang dapat diperoleh adalah 60 (RS maksimal = 60). Semua angka jawaban yang cocok dengan angka pada kunci jawaban dijumlahkan. Jumlah angka jawaban yang sesuai tersebut disebut skor mentah yang dimiliki Testee.
2.       Mengkonversikan Skor Mentah Dalam Persentil
          Setelah Raw Score diperoleh, maka tester perlu mengubah skor tersebut ke dalam bentuk persentil. Caranya adalah skor mentah diperoleh dimasukkan dalam table skor mentah dan langkah selanjutnya adalah mengkonversikan skor mentah ke dalam persentil. Skor persentil diperoleh dengan cara mencocokkan skor mentah pada tabel konversi.
3.      Mengkonversikan Persentil ke Dalam IQ
          Untuk mengkonversikan persentil dari masing-masing testee ke dalam IQ digunakan tabel equivalensi. Cara mengkonversikannya adalah dengan cara persentil masing-masing testee dicari pada tabel equivalensi pada kolom persentil ditarik garis ke kanan maka akan diketemukan IQ masing-masing testee.
4.      Menentukan Taraf Inteligensi
          Setelah IQ masing-masing testee diperoleh dan kita berkeinginan untuk mengetahui taraf IQ seseorang testee, maka IQ masing-masing testee harus dicocokkan dengan klasifikasi tertentu. Untuk menentukan taraf IQ masing-masing testee digunakan klasifikasi IQ dari Stanford – Binet Test
Ø  Interpretasi
Dari hasil skoring tes SPM ini kita bisa mengukur dan mengetahui berapa banyak soal yang dapat di kerjakan dengan benar dan berapa soal yang salah. Jumlah yang benar akan di ubah ke dalam bentuk presentil lalu di konverskan dan di cari dalam tabel equivalensi untuk menentukan taraf intelegensi diri sendiri.

b.    Kesan/tanggapan setelah mengerjakan tes
               Kesan saya setelah mengerjakan tes ini adalah ternyata soal ini tidaklah mudah di kerjakan. Ada banyak soal yang membutuhkan ketelitian, sehingga dalam pengerjaannya kadang satu soal menghabiskan waktu sampai 1 menit. Alhasil dalam waktu 30 menit saya tidak sampai selesai mengerjakan tes tersebut

c.    Kekuatan dan kelemahan tes
Ø  Kekuatan dari Tes SPM
·         Tes ini mengasah kecepatan dan ketepatan dalam mengerjakan soal tes.
·         Tes ini mengukur pemahaman dan pengertian terhadap gambar yang diberikan dan mengembangkan pola pikir sistematis
·         Tes ini adil untuk semua budaya
·          Hasil skor dapat dibandingkan dengan norma untuk menunjukkan tingkat kemampuan mental seseorang.
·         Dengan adanya tes ini, kita dapat mengetahui kesulitan belajar yang kita alami.
Ø  Kelemahan dari Tes SPM
·         Tes yang berbatas waktu ini, tidak menjamin apakah seseorang benar memiliki intelegensi yang tinggi atau rendah, karena mungkin saja seseorang tidak bisa menyelesaikan semua soal karena dia teliti.

d.   Hasil tes
Nomor        : 141114052
Nama          : Maria Titian Moi Lay (P)
Pendidikan formal  : Mahasiswa
Pekerjaan dan Jabatan : -
Tanggal Tes            : 08-09-2015
Tanggal Lahir         : 05-08-1996
Usia                        : 19 tahun 1 bulan
Jumlah soal benar   : 42 soal
Jumlah soal salah    : 18 soal
RS                          : 42
SS                           : 35
Golongan                :
Persentil                  : 40
Norma T                 : 51
Norma Standar sebelas : 5
Analisis                               : Berdasarkan hasil tes yang saya peroleh dalam pengerjaan tes SPM ini, saya memiliki kelemahan dalam mengerjakan tes dengan cepat. Saya cenderung lama dalam menyelesaikan satu soal. Saya belum bisa mengatur berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk            menyelesaikan satu soal. Saya kurang bisa menyelesaikan soal tes gambar yang berbentuk bangun ruang dan garis.

RANGKUMAN
1.      Tanggapan saya terhadap tes kecerdasan ini adalah tes ini tidak sepenuhnya benar dalam mengukur kecerdasan saya. Karena menurut saya, diri saya ini mampu dalam menyelesaikan soal tes maupun ujian dengan baik dan benar serta nilai yang saya peroleh memuaskan. Saya agak kurang menerima tes ini juga karena, saya mendapatkan skor 42 bukan karena saya tidak tahu mengerjakan, tetapi karena selama mengerjakan tes ini saya selalu teliti untuk setiap soalnya. Saya tidak bisa menyelesaikan karena kehabisan waktu.
2.      Sandungan yang mungkin saya hadapi terkait dengan kecerdasan saya adalah kurang bisa mengatur waktu dalam menyelesaikan suatu soal. Saya cenderung berpikir lama dengan harapan untuk bisa mengerjakan semua soal dengan baik. Tetapi hai itulah yang membuat saya kehabisan waktu dan membuat saya menjadi tidak fokus ketika waktunya hampir selesai. Bukannya hasil bagus yang di peroleh tapi hasil yang kurang memuaskan.