Tampilkan postingan dengan label Modul Pelatihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Modul Pelatihan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 04 Januari 2019

Pendidikan Seksual dan Cinta Remaja


PENDIDIKAN SEKSUAL DAN CINTA REMAJA

MODUL



Disusun Sebagai Pelaksanaan Tugas Mata Kuliah Biopsikologi
Dosen pengampu
Drs. R. Budi Sarwono, M. A.

Di susun
O
L
E
H
Maria Titian Moi Lay             141114052



BIMBINGAN DAN KONSELING
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015

SATUAN PELAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL
A.    Topik/Pokok Bahasan             : Pendidikan Seks dan Cinta Remaja
B.     Tugas Perkembangan              : Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual
C.     Bidang Bimbingan                  : Belajar
D.    Jenis Layanan                         : Klasikal
E.     Fungsi Layanan                      : Fungsi Pemahaman dan Pencegahan
F.      Sasaran Pelayanan                  : Siswa SMA Kelas X
G.    Standar Kompetensi                : Siswa Menjadi Tahu secara Intelektual Mengenai                                                     Pendidikan Seks dan Cinta Remaja
H.    Kompetensi Dasar                   : Siswa mampu mengembangkan konsep dan                                                              keterampilan intelektual dalam hal pendidikan seks                                                  dan cinta remaja
I.        Indikator                                 : Sesudah mengikuti kegiatan ini,
1.      Siswa mampu menyadari perannya sebagai remaja
2.      Siswa mampu memahami tentang pendidikan seks
3.      Siswa mampu membedakan antara seks dan cinta remaja
J.       Materi Pelayanan                    : Hal-hal yang diperlukan siswa untuk memahami                                                       tentang pendidikan seks dan cinta remaja
K.    Prosedur/Proses
1.      Metode (Pendekatan)        : Ceramah, Diskusi, Dinamika Kelompok
2.      Time Schedule
Sesi
Waktu
Durasi
Kegiatan
Pelaksana
I
09.00-09.03
3”
Doa Pembuka
Peserta yang ditunjuk
09.04-09.07
3”
Perkenalan secara umum
Guru Pembimbing
09.08-09.18
10”
Penyampaian materi “Pendidikan Seks”
Guru Pembimbing
09.19-09.22
3”
Ice Breaking
Guru Pembimbing dan Peserta
09.23-09.33
10”
Penyampaian materi “Remaja”
Guru Pembimbing
09.34-09.39
5”
Mengisi lembar kerja 1
Peserta
09.40-09.47
7”
Menonton video pendek tentang “Remaja dan Seksualitas di Zaman Modren”
Guru Pembimbing dan Peserta
09.48-09.57
7”
I   S   T   I   R   A   H  A   T
Guru Pembimbing dan Peserta





II
09.58-10.05
7”
Penyampaian materi “Pendidikan Seks dan Cinta Remaja”
Guru Pembimbing
10.06-10.16
10”
Game
Guru Pembimbing dan Peserta
10.17-10.27
10”
Lanjutan penyampaian materi “Pendidikan Seks dan Cinta Remaja”
Guru Pembimbing
10.28-10.38
10”
Mengisi lembar kerja 2
Peserta
10.39-10.42
3”
Kesimpulan dan Penutup
Guru Pembimbing
10.43-10.45
2”
Doa Penutup dan sayonara
Peserta yang ditunjuk dan semua Peserta

L.     Tempat Penyelenggaraan        : Ruang Kelas X
M.   Waktu (semester, tanggal, jumlah menit): Semester ganjil (1), tanggal  5 Agustus
        2015, 90 menit
N.    Penyelenggara Pelayanan       : Konselor/guru BK/guru Pembimbing
O.    Pihak-pihak yang disertakan
dalam penyelenggaraan
pelayanan dan peranannya
masing-masing                        : -
P.      Media (Alat/Fasilitas)             : Laptop, LCD, Proyektor, Sound Sistem, Kertas Putih                                               Kosong, Pena/spidol, Film, Game
Q.    Evaluasi                            :........................................................................................ 
R.    Catatan                              : .......................................................................................







Mengetahui,                                                                            Perencana Pelayanan/
Koordinator BK/                                                                     Guru BK/Konselor,
Kepala Sekolah



(........................)                                                                      (...............................)




PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Zaman kita sekarang merupakan zaman yang sudah patut diwaspadai. Masa muda sekarang merupakan masa yang rawan dengan kejahatan maupun perilaku yang melanggar norma-norma masyarakatnya. Salah satu perilaku masa muda yang sekarang sudah sangat terkenal dan melanggar norma-norma adalah pergaulan bebas yang berimbas pada maraknya perilaku seks bebas. Pemberitaan akan remaja yang hamil di luar nikah, kedapatan berbuatan senonoh, berpacaran tidak wajar, pesta seks, dan sebagainya sudah banyak sekali diberitakan di mana-mana.  Banyak dari remaja kita, yang sebenarnya sudah tahu akan bahaya tersebut tetapi tetap mendorong dirinya untuk terjun ke dalam perilaku berbahaya tersebut. Untuk remaja yang tidak tahu mengenai perilaku sex bebas, kemungkinan karena di lingkungannya masih mengganggap bahwa memberikan anak pendidikan seks adalah hal yang tabu.
Saat ditanya, mengapa kalian melakukan perbuatan yang menyimpang ini? Banyak sekali remaja yang menjawab karena sebagai perwujudan akan cinta saya kepada pacar saya. Cinta buta anak muda zaman sekarang sering dijadikan alasan mereka untuk melakukan seks yang tidak sehat dan tidak sesuai dengan umur mereka. Cinta remaja yang seharusnya dimaknai sebagai dorongan untuk rajin dalam belajar dan berprestasi, tetapi oleh remaja sekarang dijadikan alasan untuk pembuktian akan cinta mereka.
Melihat bahaya yang rawan dan marak terjadi ini, kita perlu menilik lagi apa yang salah sehingga remaja sekarang ini tetap tahu dan mau untuk memenuhi kebutuhan seksualitas mereka, walaupun mereka sudah melihat akibat atau efek samping dari perbuatan mereka. Apakah karena mereka kurang mendapatkan pendidikan seks? Apakah mereka tidak pernah didampingi? Apakah karena cinta buta mereka? Atau apakah karena masyarakatnya yang masih mengganggap pendidikan seks adalah hal yang tabu?
Dalam kehidupan,  seks tidaklah jauh-jauh dari cinta, tetapi remaja sekarang diharapkan dapat membekali dirinya dengan pengetahuan akan pendidikan seks dan cinta remaja yang benar, sehingga mereka tidak terjerumus ke dalam hal yang tidak diiinginkan, dan juga dapat memiliki moral yang baik. Dengan kerjasama yang baik antara berbagai pihak yang ingin agar masa depan remaja dapat tetap terjamin dengan moral yang baik, maka perilaku pergaulan bebas yang berimbas pada seks bebas tidak akan terjadi lagi atau dapat dikurangi.


PENDIDIKAN SEKS

Apa itu pendidikan seks?
·         Pendidikan seks merupakan pendidikan mengenai seluk beluk seksualitas yang diberikan dengan tujuan agar kita memiliki pemahaman dan membentuk sikap dan pikiran yang positif tentang seksualitas.
·         Pemberian informasi dalan membentuk sikap dan keyakinan tentang seks, identitas seksual, pola-pola berhubungan dengan sesama atau lawan jenis.
·         Membantu remaja untuk mampu membuat pilihan tentang perilaku yang akan diambil, merasa percaya diri dan bertindak sesuai dengan pilihan.

Bagaimanakah pendidikan seks dulu dan sekarang?
Bagi orang dulu, sebagian besar mengganggap bahwa pendidikan seks formal lebih banyak berisi penekanan, penindasan, dan penolakan seksualitas. Orang tua, sistem pendidikan, dan masyarakat cenderung mengabaikan kebutuhan untuk mendidik remaja tentang seks hanya berkisar pada masalah anatomi dan fisiologi. Gagnon dan Simon (1974) menyatakan, “Konsep kelas pendidikan seks adalah bahwa guru menyampaikan pencegahan kehamilan aman dengan cara seperti menangani barang yang bisa meledak. Pendidik dan orang tua sama-sama takut dan khawatir bahwa mendiskusikan seks akan membangkitkan minat anak-anak muda untuk melakukan kegiatan seks secara aktif. Buku-buku yang tersedia tidak hanya sarat dengan masalah moral , tetapi juga sering penuh dengan informasi yang kurang tepat.”
Sekarang di semua jenjang pendidikan diajarkan tentang pendidikan seks. Bahkan dari rumah pun orang tua yang sadar dan berpikiran maju sudah memberikan tentang pendidikan seks sejak anak berusia dini. Seks memang merupakan bahan pembicaraan yang peka. Masalah seks tidak perlu ditutup-tutupi, namun tidak lantas juga dibicarakan di tempat umum secara terbuka. Seks bukanlah hal yang tabu.

Mengapa pendidikan seks penting diberikan?
Pendidikan seks sangatlah penting untuk diberikan karena pendidikan seks tidak hanya mengenai pembiakan manusia, tetapi juga mencakup keseluruhan sikap terbuka pria dan perempuan dalam hubungan mereka satu sama lain dan mengembangkan diri mereka agar bertanggung jawab. Informasi tentang seks dan seksualitas perlu diberikan supaya manusia memahami dirinya dan seksualitasnya. Informasi tentang seks dan seksualitas merupakan bagian dari pendidikan seks.

Siapa sajakah yang dapat memberikan pendidikan seks?
Pendidikan seks dapat diberikan oleh Orang tua sebagai tempat belajar anak yang paling pertama, Guru BK, Pakar di bidang seksualitas, Petugas Kesehatan, dan teman-teman kita yang kita yakini memiliki pengetahuan luas dalam pendidikan seks.



Ø  Ice Breaking “Positif Thinking”
Jenis Permainan          : Menyanyikan lagu Positif Thinking
Durasi                          : 3 menit
Peserta                         : Seluruh siswa-siswi
Cara bermain               : Siswa-siswi menirukan lagu yang dinyanyikan oleh Guru, dan        mengikuti tempo yan sesuai dengan Guru (baik tempo lambat     maupun cepat).
Aku buka punya kamu, kamu buka punya aku
Sama-sama buka hati.
Aku Lihat punya kamu, kamu lihat punya aku
Sama-sama lihat mata
Aku remas punya kamu, kamu remas punya aku
Sama-sama remas jari
Berair punya aku, berair punya kamu
Sama-sama air mata
Berdarah punya aku, berdarah punya kamu
Sama-sama darah muda
Berbeda punya aku, berbeda punya kamu
Walau beda tetap satu… la..la..la..la..la..
Tujuan                         :
1.      Membangkitkan semangat siswa
2.      Mengajak siswa untuk membentuk pikiran yang positif
3.      Siswa menjadi semakin akrab satu sama lain


Apa yang dipelajari dalam pendidikan seks?
Ayo kita pelajari bersama-sama.........

A.    Pengertian Seks
Seks  berarti jenis kelamin. Jadi, seks menunjukan perbedaan antara jenis kelamin pria maupun perempuan.

Setiap manusia normal, pasti memiliki nafsu seks dalam dirinya. Tetapi seksualitas baru benar-banar dirasakan saat kita mengalami masa akil balik atau pubertas yaitu pada masa remaja.

B.     Remaja
Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh menjadi dewasa atau mencapai kematangan, baik secara fisik, psiksis, maupun moral-sosial.
Remaja merupakan masa transisi atau peralihan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Rentang usia remaja yaitu:

·         Remaja awal   : 12-15 tahun (SMP)
a.       Perkembangan Fisik
-          Terjadi pertumbuhan fisik yang pesat
-          Dalam jangka 3-4 tahun anak bertumbuh hingga tingginya hampir menyamai tinggi ortu.
-          Pertumbuhan anggota badan dan otot-otot sering tidak seimbang.
-          Pada laki-laki mulai memperlihatkan penonjolan otot-otot pada dada, lengan, paha dan betis. Pada wanita mulai menunjukkan mekar tubuh yang membedakannya dengan tubuh kanak-kanak.
-          Dalam hal kecepatan pertumbuhan, terutama nampak jelas dalam usia 12-14 tahun remaja putri bertumbuh demikian cepat meninggalkan pertumbuhan remaja pria.
-          Dalam masa pertumbuhan ini baik remaja pria maupun remaja wanita cenderung ke arah memanjang dibanding melebar.
-          Kematangan kelenjar seks pada usia 11/12 th – 14/15 th.Biasanya pertumbuhan itu lebih cepat pada remaja putri dibanding remaja putra.
b.      Perkembangan Psikis
-          Ketidakstabilan keadaan perasaan dan emosi
Keadaan semacam ini sering disebut strom and stress. Misalnya remaja sesekali sangat bergairah dalam bekerja tiba-tiba berganti lesu.
-          Status remaja awal yang membingungkan
Orang tua kadang ragu memberikan tanggungjawab dengan alasn mereka masih “kanak-kanak”. Tetapi saat mereka bertingkah kekanak-kanakan, mereka mendapat teguran sebagai “orang dewasa”Karena itu, mereka bingung akan status mereka.
-          Banyak masalah yang dihadapi remaja
Remaja awal sebagai individu yang banyak mengalami masalah dalam kehidupannya. Hal ini dikarenakan mereka lebih mengutamakan emosionalitas.
·         Remaja Pertengahan   : 15-18 tahun (SMU)

·         Remaja Akhir  : 18-22 tahun (mahasiswa)
a.       Perkembangan Fisik
-          Pertumbuhan fisik remaja relatif berkurang dengan kata lain tidak sepesat dalam masa remaja awal.Bagi remaja pria pada usia 20 th dan remaja wanita 18 th keadaan tinggi badan mengalami pertumbuhan yang lambat.
-          Mengalami keadaan sempurna bagi beberapa aspek pertumbuhan dan menunjukkan kesiapan untuk memasuki masa dewasa awal. Seperti badan dan anggota badan menjadi berimbang, wajah yang simetris, bahu yang berimbang dengan pinggul.
b.      Perkembangan Psikis
-          Stabilitas mulai timbul dan meningkat. Mereka mulai menunjukkan kemantapan serta tidak mudah berubah pendirian.
-          Citra diri dan sikap pandang yang lebih realistis. Disini remaja mulai menilai dirinya sebagaimana adanya (apa adanya), menghargai miliknya, keluarganya dan orang lain seperti keadaan sesungguhnya.
-          Menghadapi masalahnya secara lebih matang.Hal ini disebabkan oleh karena kemampuan pikir remaja akhir yang telah lebih sempurna dan ditunjang oleh sikap pandangan yang lebih realistis.
-          Perasaan menjadi lebih tenang. Mereka tidak lagi menampakkan gejala-gejala strom and stress sehingga muncullah suatu ketenangan dalam diri mereka.

v  PUBERTAS
Pubertas adalah periode pada masa remaja awal yang dicirikan dengan perkembangan kematangan fisik dan seksual sepenuhnya (Seifert & Hoffnung, 1987). Pubertas ditandai dengan terjadinya perubahan pada ciri-ciri seks primer dan sekunder.
Ciri-ciri seks primer memungkinkan terjadinyanya reproduksi. Pada wanita, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada vagina, uterus, tube fallopi, dan ovari. Perubahan ini ditandai dengan munculnya menstruasi pertama. Pada pria, ciri-ciri ini meliputi perubahan pada penis, scrotum, testes, prostate gland, dan seminal vesicles. Perubahan ini menyebabkan produksi sperma yang cukup sehingga mampu untuk bereproduksi, dan perubahan ini ditandai dengan keluarnya sperma untuk pertama kali (biasanya melalui wet dream).
Ciri-ciri seks sekunder meliputi perubahan pada buah dada, pertumbuhan bulu-bulu pada bagian tertentu tubuh, serta makin dalamnya suara. Perubahan ini erat kaitannya dengan perubahan hormonal. Hormon adalah zat kimia yang diproduksi oleh kelenjar endokrin, kemudian dilepaskan melalui aliran darah menuju berbagai organ tubuh.
Kelenjar seks wanita (ovaries) dan pria (testes) mengandung sedikit hormon. Hormon ini berperan penting dalam pematangan seksual. Kelenjar pituitary (yang berada di dalam otak) merangsang testes dan ovaries untuk memproduksi hormon yang dibutuhkan. Proses ini diatur oleh hypothalamus yang berada di atas batang otak.


C.     Remaja dan Seksualitas
a.       Perilaku seksual remaja
Perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual (baik dengan laki-laki dan atau perempuan). Bentuk perilaku ini dapat beraneka ragam seperti pendekatan, berpacaran, berkencan, bercumbu, dan dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual. Sebagian tingkah laku ini memang tidak memiliki dampak, terutama bila tidak menimbulkan dampak fisik bagi orang yang bersangkutan atau lingkungan sosial. Tetapi sebagian perilaku seksual (yang dilakukan sebelum waktunya) justru dapat memiliki dampak psikologis yang sangat serius, seperti rasa bersalah, depresi, marah, dan agresi.
Sementara akibat psikososial yang timbul akibat perilaku seksual antara lain adalah ketegangan mental dan kebingungan akan peran sosial yang tiba-tiba berubah, misalnya pada kasus remaja yang hamil di luar nikah. Belum lagi tekanan dari masyarakat yang mencela  dan menolak keadaan tersebut dan kompleks.i
Berbagai perilaku seksual pada remaja yang belum saatnya untuk melakukan hubungan seksual secara wajar antara lain dikenal sebagai :
·         Masturbasi atau onani yaitu suatu kebiasaan buruk berupa manipulasi terhadap alat genital dalam rangka menyalurkan hasrat seksual untuk pemenuhan kenikmatan yang seringkali menimbulkan goncangan pribadi dan emosi.
·         Berpacaran dengan berbagai perilaku seksual yang ringan seperti sentuhan, pegangan tangan sampai pada ciuman dan sentuhan-sentuhan seks yang pada dasarnya adalah keinginan untuk menikmati dan memuaskan dorongan seksual.
·         Berbagai kegiatan yang mengarah pada pemuasan dorongan seksual yang pada dasarnya menunjukan tidak berhasilnya seseorang dalam mengendalikannya atau kegagalan untuk mengalihkan dorongan tersebut ke kegiatan lain yang sebenarnya masih dapat dikerjakan.
·         Dorongan atau hasrat untuk melakukan hubungan seksual selalu muncul pada remaja, oleh karena itu bila tidak ada penyaluran yang sesuai (menikah) maka harus dilakukan usaha untuk memberi pengertian dan pengetahuan mengenai hal tersebut.

b.      Faktor Pemicu Perilaku Seksual
Faktor yang menjadi pemicu perilaku seksual remaja yaitu:
-          Perubahan-perubahan hormonal yang meningkatkan hasrat seksual remaja untuk disalurkan.
-          Penundaan penyaluran hasrat seksual karena undang-undang perkawinan dan norma sosial yang semakin memperketat persyaratan perkawinan dan norma sosial yang semakin mempererat persyaratan perkawinan.
-          Norma-norma agama yang melarang untuk melakukan hubungan seksual sebelum menikah.
-          Penyebaran informasi dan rangsangan melalui media sosial. Remaja yang sedang dalam periode ingin tahu dan mencoba akan meniru ap yang dilihat, didengar, dan dibaca di media sosial.
-          Tidak adanya keterbukaan anak dan orang tua membicarakan masalah seksual karena dianggap tabu
-          Kesejajaran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat, sehingga merasa bebas untuk melakukan apa saja.

c.       Bahaya dari perilaku seksual yang tidak sehat
Berbicara mengenai bahaya dari perilaku seksualitas remaja, sudah sangat banyak kejadian atau akibat yang dapat ditemukan seperti:
1.      Hamil di luar nikah.
2.      Belum siap secara mental  sehingga rentan mengalami gangguan rasa bersalah.
3.      Ketagihan untuk terus melakukan hubungan seksual.
4.      Terkena penyakit menular seksual, seperti HIV/AIDS, Sifilis, dan sebagainya.
5.      Kehilangan nilai-nilai moral yang positif.
6.      Tekanan dari masyarakat yang menolak dan mencela.
7.      Terganggunya kesehatan yang bersangkutan, resiko kelainan janin dan tingkat kematian bayi yang tinggi.
8.      Putus sekolah dan hilangnya masa depan yang cerah.
9.      Mudah depresi, marah dan agresi.
10.  Tidak siap untuk menjadi orang tua di masa muda dan tidak bertanggung jawab.












Lembar Kerja 1
“Memetik Pengetahuan & Manfaat”

Setelah saya mendapati pelajaran dan bimbingan tentang pendidikan seks , saya menjadi tahu bahwa:
1.      .................................................................
2.      .................................................................
3.      .................................................................
4.      .................................................................
5.      .................................................................
6.      .................................................................
7.      .................................................................

Manfaat yang saya dapat dari pendidikan seks kali ini adalah:
·         Dalam hal kognitif
1.      .......................
2.      .......................
3.      .......................dstnya.
·         Dalam hal afektif
1.      ......................
2.      ......................
3.      ......................dstnya.
·         Dalam hal konatif
1.      ......................
2.      ......................
3.      ......................dstnya.



   Menonton video pendek tentang “Remaja dan Seksualitas di Zaman Modren”






PENDIDIKAN SEKS & CINTA REMAJA

Pendidikan seks dan cinta mutlak diberikan oleh semua tingkatan usia, terutama remaja dalam tingkat usia peka terhadap hal-hal yang menyangkut seks; bahkan bagi mereka, persoalan cinta terhadap lawan jenis sudah merupakan tuntutan. Karena demikian besarnya pengaruh cinta pada mereka, maka tak jarang mereka menyalahartikan hakikat cinta dengan seks. Seks sering diartikan sebagai kelanjutan cinta, meskipun mereka belum resmi menjadi suami istri. Sebagai akibatnya, banyak orang tua yang terpaksa mengawinkan anak mereka pada usia muda karena telah terjadi “kecelakaan”.

A.    Bermulanya Cinta
Ketika remaja atau dewasa merasakan bahwa dirinya jatuh cinta untuk pertama kalinya, maka sebenarnya ia sudah mengalami aneka macam cinta yang berkembang dari satu babak ke babak lain. Pada usia remaja, anak perempuan ataupun lelaki mengalami perkembangan-perkembangan kelenjar. Orang tua mulai menekankan bahwa yang berlainan jenis kelamin tidak boleh berhubungan terlalu intim, dan harus ada batasan. Pada saat itulah anak perempuan dan anak lelaki mulai saling tertarik dan memperhatikan. Dari rasa tertarik dan perhatian, timbullah perasaan jatuh cinta yang berkembang menjadi getaran-getaran rohaniah ataupun badaniah. Jatuh cinta pada masa remaja merupakan babak lanjutan dari tahap-tahap cinta yang pernah dialami sejak dini.

B.     Sikap Terhadap Seksualitas
Dalam kehidupan yang berlainan, pemahaman manusia tentang seks berbeda satu sama lainnya. Adakalanya seks diartikan sebagai suatu kekejaman, atau dirasakan sebagai pantulan rasa cinta, bahkan ada juga yang mengartikannnya sebagai khayalan semata. Oleh karena itu, hubungan seks dapat terjadi antara dua orang yang saling mencintai atau dua orang yang saling membenci.
Para remaja yang telah membaca maupun menonton tentang seks banyak yang merasa bahwa dirinya telah ditipu. Mereka merasa dibohongi karena selama ini pemahaman serta penerangan tentang seks lebih diarahkan pada anatomi semata. Seharusnya para remaja dan siapa pun perlu mengetahui bahwa masalah seksualitas bukanlah urusan anatomi belaka. Seksualitas bukanlah semata-mata urusan bagaimana mengetahui tubuh seseorang perempuan atau tubuh seseorang lelaki, dan bukan pulalah perasaan yang bergejolak belaka. Lambat laun kita akan menyadari bahwa seksualitas dalam arti luas merupakan sesuatu yang mahaluas dan kompleks. Seks merupakan perpaduan antara perasaan yang membara , bukan hanya terhadap seseorang tetapi terhadap banyak keindahan.

C.     Tingkah Laku Seksual Pada Remaja Putra dan Putri
Pola tingkah laku seksual pada seorang remaja putra ataupun remaja putri sebagian terbentuk secara insting, dan sebagian lagi di bentuk dari apa yang mereka baca, dengar, ataupun pelajari. Pola tingkah laku seksual mereka terbilang unik saat mereka jatuh cinta yaitu:
-          Rata-rata remaja putralah yang selalu berperan aktif dalam mendekati remaja putri yang telah menarik hatinya. Sedangkan remaja putri juga merasakan hal yang sama tetapi lebih bersifat menunggu lelaki yang ia taksir mendekatinya.
-          Pada remaja putra, dorongan seksualnya lebih banyak terjadi di permukaan saja. Sedangkan pada remaja putri, dorongan seksual tidaklah terlalu mendesak dan mereka mampu untuk mengontrolnya.
-          Remaja putra lebih terkesan pada penampilan badaniah wanita yang menggairahkan walaupun ia tidak megetahui kepribadian wanita itu, sedangkan remaja putri lebih tertarik pada pria yang penampilannya menarik dan pintar.
-          Remaja putri dapat juga mudah terangsang sedikit demi sedikit, dan ketika gejolak seksualnya mencapai titik puncak, mereka akan melakukannya juga. Namun mereka lebih mampu menundanya, malah mereka mampu menghentikan takala mereka terlibat dalam suasan yang intim.
-          Seorang pemuda seperti juga pemudi, dapat saja jatuh cinta secara mendalam dengan kesetiaan yang berlebih-lebihan atau penuh perhatian.

Ø  Game Kelompok

D.    Perbedaan yang Menyolok antara Cinta yang Romantis dan Seksualitas
Masalah yang tidak menyenangkan, atau yang membawa pertentangan batin untuk para pemuda dan pemudi yang idealistis, lebih-lebih pada usia belasan tahun yang menyolok sekali antara seks secara badaniah dan perasaan yang romantis disertai kelembutan, yang bertalian dengan spritual.
Bagaimana cara mengetahui perbedaannya? Apakah kita benar-benar jatuh cinta, ataukah hanya perasaan romantis yang bergejolak, ataukah hanya tertarik secara seksual? Jalan satu-satunya adalah dengan memahami dan menyadarinya secara perlahan-lahan.
Dalam keadaan bahagia, ketika jiwa sedang tergugah dan tubuh bergairah maka apa-apa yang dirasakan lantas melebur dan diartikan bahwa kita benar-penar jatuh cinta. Dapat saja kita menafsirkan bahwa cinta itu adalah cinta yang paling mulia dan kita yakin tidak akan pernah mencintai lagi. Takala kita mencapai usia remaja atau memasuki usia duapuluhan, aspek cinta romantis dan seksualitas tampaknya larut menjadi satu.
Aspek-aspek badaniah tentang seksualitas begitu mentah dan amat medesak, lebih-lebih pada usia remaja, sehingga tidak seorang pun yang tidak mengalaminya. Yang jelas, saat kita mencapai usia remaja banyak dari kita yang lantas mengalami dorongan seksual itu, sehingga dapat menimbulkan daya imajinasi tentang hubungan seksual badaniah yang amat menarik, mengasyikan, bahkan mengejutkan. Terdorong oleh aspek itu timbul keinginan kita mencari tahu tentang lawan jenis.
Bila seorang remaja putra berada di suatu tempat dengan lawan jenisnya yang telah menarik perhatiannya, mereka terdorong untuk mendapatkan keasyikan dengan jalan bersentuhan satu sama lain. Pada tahun-tahun pertama masa remaja atau pada awal kencan, sebenarnya kenikmatan yang dirasakan hanyalah semu. Semua perasaan yang bergejolak dan menggebu-gebu itu belum dapat diartikan sebgai cinta yang tulus, atau dasar yang kuat serta rela untuk mengadaka hubungan yang lebih mendalam secara badaniah. Semua itu lebih banyak terjadi karena dorongan keluar yang sedang aktif-aktifnya pada periode itu. Dorongan-dorongan yang amat medesak ini pula yang menyebabkan kita melakukan hal-hal yang lain.
Pada tahun-tahun pertama masa kencan di masa remaja, dorongan untuk saling berhubungan hanya cenderung karena aktivitas kelenjar seksual, walau dibarengi dengan semacam cinta. Pada masa ini remaja putra dan putri mulai tertarik pada lawan jenisnya secara badaniah. Pada masa ini, remaja putra atau putri dalam waktu yang bersamaan dapat saja tertarik pada beberapa lawan jenisnya.
Jatuh cinta secara bersungguh-sungguh sebenarnya merupakan suatu proses yang lain. Hal ini bukan hanya membutuhkan perasaan yang membara, tetapi lebih banyak rasa tanggung jawab. Malah, jatuh cinta adalah proses seumur hidup karena cinta sebagaimana juga semua yang hidup dan tumbuh memerlukan perawatan.


Ø  Game kelompok
Jenis permainan           : Karet Cinta
Durasi                          : 10 menit
Peserta                         : Semua siswa-siswi (50 orang)
Alat dan bahan            : Gelas, tusuk gigi dan karet sebanyak jumlah peserta
Cara bermain               :
1.      Siswa-siswi secara acak dibagi dalam 5 kelompok
2.      Lalu setiap kelopok dibagi berdiri memanjang ke belakang
3.      Siswa-siswi harus terlebih dahulu mendengarkan intruksi dari guru mengenai cara bermain yang baik dan benar
4.      Saat tanda waktu dimulai, setiap siswa lalu menggigit tusuk gigi. Siswa yang berada di garis start akan mengambil karet menggunakan tusuk gigi yang ada pada mulutnya, lalu di over pada temannya
5.      Begitu seterusnya, sampai pada orang terakhir  akan memasukan karet tersebut ke dalam gelas plastik enggunakan tusuk gigi di mulutnya
6.      Karet yang jatuh tidak dapat diambil dan harus di ulang dari awal.
7.      Setelah tanda waktu sesesai, semua aktivitas dihentikan dan guru akan menghitung hasil perolehan karet. Karet yang paling banyak dinyatakan sebagai pemenang dan mendapat reward, sedangkan yang kalah akan diberikan hukumna sesuai permintta pihak yang menang
Tujuan permainan       :
1.      Siswa-siswi menjadi tambah semangat
2.      Membangun jiwa kerja sama
3.      Melatih kecepatan
4.      Mempererat hubungan diantara semua siswa



Lembar Kerja 2
“Sharing Bersama Teman”

Semua siswa yang telah dibagi dalam kelompok permainan sebelumnya diminta untuk duduk berkelomok. Dalam kelompok tersebut akan di adakan sharing bersama. Dari masing-masing kelompok akan diminta kesediannya 2 atau 3 orang untuk mensheringkan tentang pengalamannya yang berhubungan dengan pendidikan seks dan cinta remaja. Selesai sharing, siswa akan diminta untuk menuliskan beberapa hal berikut.
Ø  Pengalaman apa yang dapat saya petik dari sharing teman saya?
Ø  Adakah pengalaman sama yang dialami seperti teman yang mensheringkan pengalamannya?
Ø  Ceritakan pengalaman mu yang berkaitan dengan pendidikan seks dan cinta remaja!
Ø  Harapan saya setelah mengikuti materi hari ini adalah............
Ø  Kesimpulan dari materi hari ini adalah........................



PENUTUP

Sebagai orang muda yang masih berada dalam tumbuh kembang yang penuh gejolak, kita tentunya harus memiliki bekal pendidikan yang memadai. Salah satu bekal pendidikan yang juga penting pada masa kita ini adalah pendidikan seks. Pendidikan seks membantu kita untuk lebih memahami diri kita dan lawan jenis kita. Pendidikan seks mengajak kita untuk melihat segala sesuatu dalam pandangan yang positif. Pendidikan seks dapat dijadikan bekal untuk menangkal godaan dan nafsu dari dalam maupun luar diri kita yang ingin merasakan pengalaman menyenangkan dengan menghadirkan dampak akibat perbuatan kita yang tidak bertanggung jawab. Pendidikan seks sangatlah berkaitan dengan cinta remaja. Cinta yang terlalu menggebu-gebu dapat mengarahkan kita pada perilaku seks yang sebenarna belum layak untuk kita lakukan. Kenali dan pahami cinta yang kita alami dan perdalam pemgeahuan tentang pendidikan seks, maka kita dapat meminimalisir perilaku seks yang sedang mengintai kita.